Reporter : Laurel Benny Saron Silalahi

Beniti Lini Manata (13), siswi kelas 7 SMP Alwashliyah 1 Rawamangun, menghembuskan nafas terakhir setelah 5 jam meregang nyawa di RS Persahabatan, Jakarta Timur. Beniti tertabrak Metromini T47 jurusan Pondok Kopi-Senen di daerah Rawamangun saat pulang sekolah bersama dua orang temannya yaitu, Reni Anggraeni (12), Rahmi(12). Keduanya saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit.Tuti (32) sang ibu menuturkan, semasa hidup putri sulung dari empat bersaudara ini sangat berkeinginan menjadi penyanyi terkenal saat dewasa nanti. Tidak hanya itu ramaja berparas cantik ini juga diketahui sebagai anak yang saleha. Beniti selalu tampil berjilbab."Anaknya periang bergaulnya sama siapa aja, sama orang tua kena, sama anak gadis juga kena, solat juga rajin. Cita-citanya ingin menjadi penyayi kayak Fatin. Dia itu kalau nyuci baju sambil nyanyi, mandi juga nyanyi. Pernah dilarang tapi tetep aja maunya nyayi," kisah Tuti mengenang sang anak, Rabu (24/7).Sebelum kepergian putrinya, Tuti mengaku tidak memiliki firasat apapun. Namun dikatakan dirinya, beberapa hari sebelum kecelakaan maut tersebut sang anak memang sering mengeluhkan sakit di bagian kepala."Waktu itu dia puasa, dia bilang kepalanya kok pusing lalu dia meminta izin untuk buka puasa setengah hari. Terus tadi kata guru SD nya, kemarin anak saya datang ke sekolahan dan berpamitan sama bekas gurunya di SD. Semua guru-gurunya disalamin, dan diciumin," ucapnya.Selain itu, Tuti pun menceritakan prestasi anaknya semasa sekolah di SDN 07 Rawamangun. Dikatakan Tuti, Beniti memang sosok anak yang rajin kesekolah dan memiliki perestasi yang lumayan pintar."Waktu SD pernah rangking 7 besar, pokonya kalau di SD dia terkenal. Semua orang pasti tahu kalau nyebut nama Beniti," ungkapnya.Menurut Tuti anaknya tersebut juga sering menjadi pemandu lagu saat upacara bendera di Sekolah."Dia juga suka jadi dirijen waktu pengibaran bendera di sekolah. Memang suka musik kayaknya. Bahkan dia juga suka ngajarin adik kelasnya untuk jadi dirijen," terangnya.Kini tidak adalagi senyuman manis, dan suara Beniti di rumahnya. Sang ibu pun sangat terpukul, dengan kematian anaknya yang begitu cepat menghadap sang pencipta."Besok-besok, saya nggak bisa denger suara nanyian dia lagi, saya ikhlas, saya tahu ini cobaan dari Tuhan," pungkasnya.